Headlines News :
Home » » PEMUPUKAN

PEMUPUKAN

Written By BUDI PRASETYO on Senin, Juli 11, 2011 | 13.39

PENDAHULUAN

Manfaat pupuk adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau bahkan tidak tersedia di tanah menjadi tersedia untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pupuk yang diproduksi dan beredar di pasaran sangatlah beragam, baik dalam hal jenis, bentuk, ukuran, kandungan unsur hara maupun kemasannya. Dengan beragamnya jenis pupuk dengan berbagai karakter masing-masing, sering membuat pemakainya kebingungan untuk menggunakannya. Tidak mengherankan jika sering dijumpai kegagalan produksi tanaman sebagai akibat kesalahan pemupukan. Untuk mengatasi hal tersebut sebelum dilakkan pemupukan ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu melakukan analisis tanah dan daun, mengidentifikasi gejala kekurangan unsur hara, dan menentukan metode pemupukan.

Analisis tanah dan daun adalah untuk mengetahui ketersediaan unsur hara dalam tanah dan unsur hara apa yang dibutuhkan tanaman. Di samping itu dengan mengidentifikasi gejala kerusakan/kelainan pada tanaman kita sudah dapat memprediksi unsur hara yang kurang yang dibutuhkan tanaman. Untuk mengaplikasikan pupuk sesuai dengan rekomendasi hasil analisis perlu metode pemupukan yang tepat, karena kesalan cara aplikasinya, pemupukan yang kita berikan tidak/kurang bermanfaat.



1. Mengambil Sampel untuk Analisa Tanah dan Daun

Tujuan analisis

Sebidang tanah yang digunakan untuk kepentingan pertanian khususnya budidaya tanaman perlu mendapatkan perhatian yang seksama agar tanaman budidaya itu berhasil dengan baik, tanaman apa yang cocok, kandungan bahan-bahan mineral pada tanah apakah mencukupi atau masih terdapat kekurangan, atau ada diantara bahan-bahan yang terkandung itu mengandung racun, sehingga tanaman akan mati, selain itu apakah tanah terlalu masam atau basa. Dengan memanfaatkan teknologi pertanian kita dapat melakukan analisis terhadap tanah untuk selanjutnya mendiagnosa tanaman apa yang cocok dikembangkan pada tanah tersebut atau memberikan unsur hara apa supaya keberadaannya tersedia dan mencukupi untuk tanaman yang kita tanam melalui pemupukan. Selain analisis tanah harus dilengkapi pula dengan analisis jaringan tanaman yang digunakan/ditujukan untuk diagnosa kebutuhan hara suatu tanaman, pada masing-masing saat selama pertumbuhannya yang akan berpengaruh terhadap hasil.

Mengambil contoh tanah dan jaringan tanaman

Hasil analisis tanah yang dapat diperoleh akan sangat tergantung dari beberapa fakor antara lain dari cara pengamilan serta pengerjan contoh-contoh tanah yang dianalisis tersebut.

Contoh tanah yang baik hanya akan diperoleh jika pengambilannya memperhatikan persyaratan-persyaratan berikut :

Dengan memperhatikan perbedaan-perbedaar tofografi, sifat atau watak tanah, warna tanah dan perbedaan-perbedaan lain yang menimbulkan kelainan.
Merupakan contoh tanah individual, yang banyaknya tergantung dari keadaan lokasi yang dalam hal ini :

Kalau tanahnya homogen sebaiknya diambil 5 sampai 20 contoh anah.
Contoh-contoh tanah individual ini selanjutkanya dikumpulkan dan dicampur scara merata.
Kalau tanah homogen itu luas, contohnya supaya diambil dari 2-5 ha.

3. Tidak mengambil contoh tanah dari sekitar perumahan, jalan, selokan, tanah bekas pembakaran, dan bekas timbunan pupuk.

Dengan memperhatikan ketiga persyaratan tersebut di atas, analisis yang kita lakukan dapat diharapkan memberikan hasil yang baik. Dengan hasil analisis yang diperoleh dapat ditafsir tentang status unsur hara yang terkandung dalam tanah, sifat tanah dan tinakan yang diperlukan untuk mengatasi gejala defisiensinya.

Cara pengambilan sampel tanah

Apabila kita telah mendapatkan tanah yang memenuhi syarat di atas, haruslah kita memperhatikan pula cara-cara pengambilan contoh tanah tersebu dari tanah tadi. Cara-cara tersebut antara lain sebagai berikut :

Pertama-tama kita harus memperhatikan tntang kebersihan permukaan tanahnya, apabila telah terbebas dari tanaman, dedaunan, sisa tanaman an kotoran lainnya, baru setelah benar-benar bersih kita lakukan pengambilan.
Contoh tanah individual diambil dengan menggunakan alat bor tanah, tabung hoffer, cangkul atau sekop dari agian/lapisan tanah sdakam 10-20 cm.
Contoh-contoh tanah individual (5-20 contoh) selanjutnya dicampur sehinga merata, bawa ke tempat yang teduh untuk ditebarkan agar menjadi kering udara.
Banyaknya tanah kering udara yang diperlukan untuk suatu contoh adalah sekitar 500 – 1000 gram, kemudian dieri petunjuk (label) dari mana tanah itu diamil, letak dan tinggi tempat, jenis tanaman yang ada dan akan dianam, pemberian pupuk yang iasa dilakkan, warna tanah, dan penjelasan-penjelasan lain yan bersifat khusus yang mungkin diperlukan.



Cara pengambilan sampel daun

Cara-cara pengambilan sampel daun untuk pedoman pemupukan sangat tergantung pada jenis tanaman, antara lain sebagai beriku :

Tanaman Teh (Camellia Sinensis)

Bagian tanaman ini yang dapat dijadikan sampel bagi kepentingan analisis dan diagnosa yang hasilnya dapat dijadikan pedoman pemupukan yaitu; bagian folium, terutama daun muda kedua daru ujung tunas yang tumbuh dari bagian yang telah terpetik, pilih tanamannya yang tumbuh di bedengan/larikan bagian dalam, pengambilannya supaya dilakkan 8 minggu setelah masa petik. Kumpulkan daun pertama yang normal yang tertinggal di tunas.

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman yan tumbuh pada petak pertanaman yang tetap dan mewakili petek-petak lainnya, luas petak terpilih sekitar 1 acre atau lebih. Dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik di sepanjang diogonal pola (x) atau dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

Tanaman Kelapa (Cocos nucifera)

Dari tanaman kelapa ini bagian yang diperlukan untuk nalisis Yitu dua malai daun (pinnae) di kiri dan kanan tandan bunga dari tanaman sampai 4 tahun yaiu daun pertama dari malai yang baru saja terbuka, kemudian dari tanaman berumur 5-7 tahun (daun kesembilan) dan dari pohon yang lebih tua (daun keempat elas).

Pengambilan helai-helai daun malai tersebut yang berada di bagian tengah selebar 5 cm dari tiap malai daun, pohon-pohonnya tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehlai daun dari 5-10% jumlah pohon yang tumbuh di lingkungan petak, atau diambil dari paling sedikit 25 pohon.

Tanaman Kopi (Coffea arabica)

Bagian tanaman ini yang diperlukan bagi sampel yaitu foliumnya, terutama pasangan daun ketiga atau keempat dari ujung ranting samping (biasa disebut daun pertama atau daun ujung) yang paling sedikit mempunyai panjang, baik yang berbuah atau tidak, 1-2 helai daun ranting samping sebanyak 4 penjuru (mata angin).

Pengambilan contoh supaya dilakukan dari tanaman-tanaman yang tumbuh dari petak pertanaman yang tetap dan mewakili petak-petak yang lainnya. Luas petak terpilh sekiar 1 acre atau leih, atau dapat juga diambil dari tanaman-tanaman yang tumbuh di sepanjang jajaran sebanyak 5-10% jumlah tanaman (jumlah hendaknya tidak kurang dari 25 tanaman).

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinensis)

Dari tanaman kelapa sawit ini yang diperlukan untuk sampel yaitu 2 helai daun di kiri dan kanan tandan bunga di bagian tengan yang selebar 5 cm dari tiap helai dau. Tanaman berumur sampai 2 tahun ambilah daun yang kesembilan, berumur 4 tahun atau lebih ambil daun yang ketujuh belas.

Pengambilan sampel supaya dilakukan dari tanaman-tanaman yang tumbuh pada petak yang tetap, ambil sehelai daun dari 5-10% jumlah tanaman di lingkungan petak, sampel henaknya terkumpul dari paling sediki 25 tanaman.

Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)

Dari tanaman ini yang diperlukan untuk sampel yaitu lamina foliaris, terutama dari pohon yang berumur lebih dari 4 tahun diambil 4 helai daun pangkal dari tiap roset setiap pohon, roset yang berasal dari cabang terbawah yang terlindung dari panas matahari, daun hendaknya berumur 10-12 bulan. Dari tanaman yang berumur 1,5-4 tahun dipilih 4 daun pangkal yang berasal dari roset yang tidak terlindung sinar matahaari dan aun hendaknya berumur 4-6 bulan.

Pengambilan sampel tersebut hendaknya tidak kurang dari 25 batang yang mengikuti pola diagonal.

2. Mengidentifikasi Defisiensi Unsur Hara



Bentuk Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau sering disebut unsur hara esensial. Unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dan fungsi dari masing-masing unsur hara tidak dapat digantikan oleh unsur hara yang lain. Jika jumlahnya kuran mencukupi, terlalu lambat tersedia, atau tidak diimbangi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu.

Dari 13 unsur hara yang diserap dari alam tanah, 6 unsur diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau disebut unsur makro. Tujuh unsur lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah relatif lebih kecil atau serin disebut unsur mikro.

Unsur Hara Makro

1. Nitrogen (N)

Nitrogen diserap tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO3-) dan ion amonium (NH4+). Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan negatif sehinga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah terserap oleh akar. Karena selalu berada alam larutan tanah maka iion nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air. Sebaliknya ion amonium bermuatan positif sehingga terikat oleh koloid tanah. Ion tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman setelah melalui proses pertukaran kation. Karena bermuatan positif , ion amonium tidak mudah hilang oleh proses pencucian.

Nitrogen adalah komponen utama dari berbagai substansi penting didalam tanaman. Sekitar 40 – 50% kandungan protoplasma yang merupakan substansi hidup dari sel tumbuhan terdiri dari senyawa nitrogen.

2. Fospor (P)

Fospor diserap tanaman dalam bentuk H2PO4-, HPO42 -, dan PO42 -, atau tergantung dari nilai pH tanah. Fospor sebagian besar berasal dari pelapukan batuan mineral alami, sisanya berasal dari pelapukan bahan organik. Keberadaan fospor dalam tanah mineral cukup banyak akan tetapi sebagian besar fospor terikat secara kimia oleh unsur lain sehingga menjadi senyawa yang sukar larut di alam air. Mungkin hanya 1% saja fospor yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Ketersediaan fospordi dalam tanah banyak ditentukan oleh pH tanah. Pada tanah ber-pH rendah, fospor akan bereaksi dengan ion besi dan alumunium. Reaksi ini mementuk besi fospat atau aluminium fospat yang sukar larut di alam air sehinga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Pada tanah er-pH tingi , fospat akan bereaksi dengan iopn kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fospat yang sifatnya sukar larut dan tidak apat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fospat tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman.

3. Kalium (K)

Kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K-. Di dalam tanah ion tersebut bersifat sangat dinamis, sehingga sangat mudah tercuci pada anah berpasir dan tanah dengan pH rendah. Keberadaan kalium di dalam tanah cukup melimpah, tanah mengandung 400 – 650 kg kalium untuk setiap 93 m2 (pada kedalaman 15 cm). Namun sekitar 90 – 98% berbentuk mineral primer yang tidak dapat terserap oleh tanaman. Sekitar 1 – 10% terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bermuatan positif. Bagi tanaman ketersediaan kalium pada posisi ini agak lambat. Hanya sekitar 1 – 2% terdapat di dalam larutan tanah dan mudah tersedia bagi tanaman. Kandungan kalium sangat tergantung pada jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat.

Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium oleh air dan erosi tanah.

Pada tanah berpasir harus dipertimbangkan kalium yang hanyut ke bawah area perakaran, selama musim tanam. Pencucian akan lebih banyak terjadi jika pH tanah di bawah normal. Pada tahan berpartikel liat, proses pencucian lebih tertekan dan pupuk kalium yang diberikan dapat bertahan lebih lama di dalam areal perakaran. Pencucian kalium dapat ditekan dengan program pengapuran,

Dalam pemupukan kalium, perhatikan jumlah kalium yang ersedia di dalam tanah (hasil analisis tanah). Pada tanah ber pH rendah ketersediaan kaliumnya sangat rendah. Faktor lain yang berpengaruh dalam menghitung jumlah pupuk kalium adalah kapasias tukar kation, jenis tanaman, hasil yang diharapkan, dan persentase kejenuhan basa (hasil analisis tanah).

4. Sulfur (S)

Tanaman menyerap sulfur dalam bentuk ion sulfat (SO42-) yang tidak banyak terdapat di dalam tanah mineral. Karena bermuatan negatif, ion sulfat mudah hilsng dari daerah perakaran karena tercuci oleh aliran air. Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organik yang telah mengalami dekomposisi, sulfur elemental (bubuk/batu belerang) dari aktivitas vulkanis, dan partikel dari cerobong asap pabrik yang terbawa ke tanah oleh hujan.

Batu belerang di dalam tanah dapat berubah menjadi ion sulfat dalam waktu yang lebih lama, tergantung pada ukuran butirannya. Cara terbaik untuk memangun cadangan sulfur adala dengan menambahkan bahan orrgnik dan menjaga agar jumlah bahan organik di dalam tanah tetap optimal. Jika jumlah sulfur organik berkurang diperlukan pupuk dan perlakuan khusus untuk memperbaikinya. Tnah yang ber-pH rendah mengandung ion sulfat yang rendah. Selain hlang karena tercuci dan di amil tanaman, ion sulfat dapa hilang akarena menguap ke udara dalam bentuk H2S atau dalam bentuk gas sulfur yang lainnya. Hal ini dapat terjadi jika tanah terlalu padat atau tergnang air sehinga kadar oksigennya sangat rendah.

5. Magnesium (Mg)



Magnesium diserap tanaman dalam bentuk ion magnesium (Mg2+). Di dalam tanah magnesium erasal dari pelapukan batuan mineral. Kandungan magnesium pada tanah podsolik merah berkisar pada 0,05%. Pada tanah di dekat pantai , kandungan magnesiumnya sampai 1,34%. Karena bermuatan positif ion magnesium dapat terikat pada koloid tanah atao tetap berada di dalam larutan tanah. Pada tanah ber-pH renah, ketersediaan magnesium juga rendah. Kehilangan magnesium dari dalam tanah disebabkan leh beberapa paktor, yakni pengambilan oleh tanaman, pemakaian sementara oleh mikroorganisme tanah, dan kehilangan karena hanyut oleh aliran air atau erosi.

Cara paling praktis untuk mengoreksi kekuranan magnesium pada tanah ber-pH rendah adalah dengan menebarkan kapur dolomit yan mengandung kalsium dan magnesium. Pada tanah yang ber-pH tinggi diperlukan pupuk dengan kelarutan lebih cepat, misalnya magnesium sulfat.

6. Calsium (Ca)

Kalsium diserap tanaman dalam bentuk ion kalsium (Ca2+). Dalam tanah kalsium berasal dari mineral primer pementuk tanah, misalnya batu kapur. Kandungan kalsium dalam tanah berkisar 0,1 – 0,5%. Karena bermuatan positif, ion kalsium dapat terikat pada koloid tanah sehingga dikatagorikan sebaai kalsium yang tersedia bagi tanaman. Namun, jika bereaksi dengan ion negatif, menjadi senyawa yang sukar dimanfaatkan oleh tanaman.

Unsur Hara Mikro

1. Seng (Zn)

Seng diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn2+. seng merupakan bagian dari sistem enzim tanama. Fungssi seng cukup pentin, antara lain sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik (asam yang berfunsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman), dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

kekurangan seng dapat terjadi pada tanah yan mengandung kadar phosfat tinggi atau di daerah yang bersuhu rendah, misalnya di daerah pegunungan.

keberadaan seng di dalam tanah akan menurun seiring dengan peningkat5an pH. Pada tanah berr pH 5-6, seng banyak tersedia. Pada tanah ber pH 6-9, ketersediaan seng semakin menurun dan pada pH di atas 9, seng tidak lagi dapat diserap oleh tanaman.

2. Besi (Fe)

Besi diserap tanaman dalam bentuk ion Fe2+. Unsur mikro ini sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk pembentukan klorofil. Besi berfungsi sebagai aktipator dalam proses biokimia di ddalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi. selain itu besi juga sebagai unsur pembentuk beberapa enzym tanaman. Kekuranan besi di dalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P,atau Mn di dalam tanah yang terlalu tinggi. Ketersedian besi akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah.

3. Mangan (Mn)

Mangan diserap tanaman dalam bentuk ion Mn2+. unsur mikro ini berfungsi sebagai aktifator berbagai enzim yang berperan dalam proses pembongkaran karbohidrat dan metabolisme nitrogen. mangan bersama dengan besi membantu terbentuknya sel-sel kloropil. ketersediaan mangan di dalam tanah akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah. faktor terpenting dalam mengintrol ketersediaan mangan di dalam tanah adalah pengaturan pH tanah. Jika pH tanah di bawah 4,5, jumlaah mangan yang terlarut sangat banyak, sehingga menjadi racun. Konsentrasi Mn yang terlalu besar di dalam larutan tanah juga dapat menekan penyerapan besi. Dengan pengapuran yang tepat, efek buruk dari Mn dapat dihindari.

4. Tembaga (Cu)

Tembaga diserap tanaman dalam bentuk ion Cu2+ atau ion Cu3+. Tembaga adalah aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan. Di alam tanaman ,tembaga memiliki beberapa peran, yaitu sebagai katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidra, sebagai salah satu elemendalam proses pementukan vitamin A, dan scara tidak langsungberperan dalam proses pembentukan klorofil.

5. Boron (B)

Boron diserap tanaman dalam bentuk ion BO32-. Unsur boron sangat dibutuhkan dalam proses diferensiasi (pementukan) sel sedang tumbuh. Boron yang larut di dalam larutan tanah mudah hilang karena tecuci. Kondisi ini terjadi pada tanah masam (pH dibawah 5) di daerah yan bercurah hujan tingi. Ketersediaan boron paling tingi pada pH tsns 6-7 dan menurun pada anah bertekstur liat yang er pH 7,5-8,5. Boron tidak bisa dipindahkan dari satu jaringan ke jaringan lain.

6. Molibdenum (Mo)

Molibdenum diserap tanaman dalam bentuk ion MoO42-. Unsur mikro ini berperan dalam penyerapan N, pengikatan (fiksasi) N, asimilasi N, dan secara tidak langsung juga berperan dalam produksi asam amino dan protein. Unsur ini juga berfungsi sebagai aktifaor beberapa jenis enzim. Pada anah berpasir dan tanah ber pH rendah sanant mungkin mengalami kekuanan Mo karena terjadi proses pencucian. Ketersediaan Mo meningkat seirin dengan peningkatan pH tanah. Shinga pH tanah adalah faktor terpenting alam mengontrol ketersediaan Mo. Kekuranan Mo dapat dikoreksi dengan pengapuran yang tepat.

7. Khlor (Cl)

Khlor diserap tanaman dalam bentuk ion Cl-. Unsur mikro ini dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Keberadaannya tidak dihasilkan dari metabolisme tanaman. Funsi khlor berkaitan langsung dengan pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman. Kebutuhan Cl lebih sedikit dibanding dengan unsur mikro yang lain. Jika di alam tanah terlalu banyak kandungan Cl, tanaman akan keracunan. Penyerapan NO3-, SO42- juga akan menurun.

Gejala-gejala Difisiensi Unsur Hara

Pada praktik budidaya tanaman kita sering dihadapkan pada masalah pertumuhan tanaman tidak normal, yaitu tanaman kerdil, warna daun berubah dan kematian organ tanaman seterti daun, bunga dan buah yang ditandai dengan kerontokan.

Apabila tidak ada orgn lain yang menyebabkan gangguan atau kelainan pertumbuhan tersebut, maka kelainan pertumbuhan itu disebabkan adanya kekurangan/kelebihan salah satu atau beberapa unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kelainan tumbuhan an gejala-gejala kekurangan unsur dikemukakan dalam uraian di bawah ini.

3. Menentukan Metode Pemupukan



Jenis-jenis Pupuk

1. Pupuk sumber Nitrogen

Amoniun Nitrat

Kandungan nitratnya membuat pupuk ini cocok digunakan di daerah dingin dan daerah panas. Pupuk ini akan membakar tanaman apabila diberikan terlalu dekat dengan akar tanaman atau kontak langsung engan daun. Ketersediaan bagi tanaman sangat cepat sehingga frekuensi pemberiannya harus lebih sering. Amonium Nitrat bersifat higroskopis sehingga tidak dapat disimpan lebih lama.

Amonium Sulfat

Pupuk ini dikenal dengan nama pupuk ZA, mengandung 21% nitrogen dan 26% sulfus, erbentuk kristal dan bersifat kurang higroskopis. Reaksi kerjanya agak lambat sehinga cocok digunakan untuk pupuk dasar. Sifat reaksinya asam, sehingga tidak disarankan untuk tanah ber pH rendah.

Kalsium Nitrat

Pupuk ini berbentuk butiran, berwarna putih, sangat cepat larut di dalam air. Kalsium nitrat merupakan sumber kalsium yang baik karena mengandung 19% Ca. Sifat lainnya adalah bereaksi basa dan higroskopis.

Urea

Pupuk urea memiliki kandungan N yang tinggi yaitu 46%, sehingga sangat higroskopis. Urea mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudah menguap dalam bentuk amonia.

2. Pupuk sumber Fosfor

SP-36

Mengandung 36% fosfor dalam bentuk P2O5. ppuk ini terbuat dari fosfat alam dan sulfat. Berbentuk butiran an berwarna au-abu. Sifatnya agak sulit larut dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar. Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar.

Amonium Phosfat

Pupuk ini umumnya digunakan untuk merangsang pertumbuhan awal. Bentuknya berupa butiran berwarna coklat kekuningan. Reaksinya termasuk alkalis dan mudah larut di dalam air. Sifat lainnya adalah tidak higroskopis sehingga tahan disimpan lebih lama dan tidak bersifat membakar karena indeks garamnya rendah.

3. Pupuk sumber Kalium

Kalium Klorida

Mengandung 45% K2O dan klor, bereaksi agak asam dan bersiat higroskopis. Khlor berpengaruh negatif terhadap tanaman yang tidak membutuhkanya.

Kalium Sulfat

Pupuk ini lebih dikenal dengan nama ZK. Kadar K2O-nya sekitar 48-52%, berbentuk tepung putih yang larut di dalam air, bersifat asam. Dapat digunakan sebagai pupuk dasar sesudah tanam.

Kalium Nitrat

Mengandung 13% N dan 44% K2O, berbentuk butiran berwarna putih yang tidak bersifat higroskopis dengan reaksi yang netral.

4. Pupuk sumber unsur makro sekunder

Kapur dolomit

Berbentuk bubuk berwarna putih kekuningan, dikenal sebagai bahan untuk menaikan pH tanah. Dolomit adalah sumber Ca (30%) dan Mg (19%) yang cukup baik. Kelarutannya agak rendah dan kualitasnya sangat ditentukan oleh ukuran butirannya. Semakin halus butirannya semakin baik kualitasnya.

Kapur Kalsit

Dikenal sebagai kapur pertanian berbentuk bubuk berfungsi untuk meningkatkan pH tanah. Warnanya putih dan butirannya halus, mengandung 90199% Ca. Bersifat lebih cepat larut di dalam air.

Kalium Magnesium Sulfat (Paten Kali)

Pupuk ini mengandung 30% K2O, 12% S, dan 12% MgO, erbentuk butiran dan berwarna kuning. Bersifat sukar larut dalam air.

Kapur Gypsum

Erbentuk bubuk berwarna putih. Mengandung 39% Ca, 53% S, dan sedikit Mg. Gypsum digunakan untuk meneralisir tanah yang erganggu karena kadar garam yang tingi.

Bubuk Belerang

Bubuk belerang adalah sumber sulfur yang terbesar, kandungannya dapat mencapai 99%. Namun bubuk ini tidak lazim digunakan untuk mengatasi defisiensi sulfur, tetapi lebih banyak digunakan untuk menurunkan pH tanah.

5. Pupuk sumber unsur mikro

Pupuk sebagai sumber unsur hara mikro ersedia dalam dua entuk, yakni bentuk garam anorganik dan bentuk organik sinteis. Kedua bentuk ini bersifat mudah larut di dalam air. Contoh pupuk mikro yang berbentuk garam anorganik adalah Cu, Fe,Z dan Mn yan seluruhnya bergabung dengan sulfat. Sebagai sumber boron, umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak digunakan sebagai pupuk aun. Sumber Mo ummnya menggunakan sodium atau anonium molibdat. Di baah ini berbagai garam anorganik dan kandungan unsur hara mikronya.

Bentuk organik sintetis ditandai dengan adanya agen pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat adalah bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti yang dilakkan koloid tanah. Unsur hara mikro yang tersedia dalam bentuk chelat adalah Fe, Mn, Cu, dan Zn.

Selain disediakan oleh kedua jenis pupuk di atas unsur mikro juga disediakan oleh berbagai pupuk majemuk yang banyak beredar di pasaran.

Karakteristik Pupuk

1. Analisis pupuk

Kadar unsur hara yang dikandung pupuk disebut dengan analisis pupuk. Untuk unsur makro kadar tersebut dinyatakan dalam satuan persen, sedangkan unsur mikro dinyatakan dalam satuan ppm. Jenis unsur hara yang dikandung ppuk tidak dinyatakan dalam unsur tunggal tetapi dinyatakan dalam persentase total N, P2O5 dan K2O. Sebagai contoh ppuk urea mengandung 45% N, berarti dalam 100 kg pupuk Urea terdapat 45 kg N total.

Pupuk NPK dengan analisis 15:15:15 menunjukkan pupuk tersebut mengandung 15% N, 15% P2O5 dan 15% K2O. Analisis ppuk selalu tertera pada kemasan pupuk. Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung analisis yang sama, biasanya berbea sekitar 1-2%. Hal ini sangat tergantung pada pabrik pemuatnya. Karena itu saangat penting membaca dan memaami label yang terdapat pada kemasan pupuk.

2. Higroskopisitas

Higroskopisitas adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya dalam mengikat air dari udara. Pupuk dianggap bersifat higroskopis jika di tempat terbuka mudah sekali mencair. Sifat ini sangat menentukan daya simapan pupuk. Pupuk yang bersifat higroskopis hendaknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan di tempat yang tertutup (kedap udara), kalau tiak ppuk akan cepat mencair atau menggumpal.

3. Daya larut

Daya larut merupakan kemampuan suatu jenis ppuk untuk terlarut dalam air. Daya larut juga menentukan cepat atau lambatnya unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk diserap tanaman atau hilang karena tecuci. Pupuk engan daya larut tingi lebih cepat diserap oleh tanaman, tetapi mudah tercuci oleh hujan. Pupuk yang mengandung nitrogen biasanya mempunyai daya larut yang tinggi.

4. Reaksi pupuk

Setelah pupuk ditebarkan ke tanah, pH tanah dapat berubah menjadi lebih tingi atau lebih rendah. Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah meningkat disebut pupuk bereaksi basa dan pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun disebut pupuk bereaksi asam.

5. Indeks garam

Penebaran pupuk di tanah kan meningkatkan konsentrasi garam di dalam tanah. Peningkatan konsentrasi garam ini akan menaikan tekanan osmosis larutan tanah, sehingga berpenaruh terhadap proses penyerapan unsur hara. Larutan tanah dengan tekanan osmosis yang tinggi dapat menyebabkan larutan hara tidak dapat terserap tetapi cairan sel justru akan keluar dari akar (plasmolisis jaringan akar). Pupuk dengan indeks garam yang tinggi harus ditempatkan lebih jauh dari perakaran tanaman dibanding dengan pupuk dengan indeks garam rendah.

Perhitungan Pupuk

Agar dosis pupuk yang ditebarkan sesuai dengan yang diinginkan, sebelum melakukan pemupukan diperlukan beberapa penghitungan. Berikut beberapa contoh penghitungan pupuk sebeluk melaksanakan pemupukan.

contoh 1

Hasil analisis jaringan tanaman merekomendasikan untuk melakkan pemupukan pada tanaman perkebunan dengan 150 gram N, 75 gram P2O5, dan 150 gram K2O pertanaman. Pupuk yang tersedia di pasaran adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O). Berdasarkan rekomendasi pemupukan, bobot setiap pupuk yang diperlukan untuk memenuhi rekomendasi di atas adalah :

Urea yang diperlukan adalah : 100/45 x 150 g = 333,3 gram

SP-36 yang diperlukan adalah : 100/36 x 75 g = 208,3 gram

KCl yang diperlukan adalah : 100/60 x 150 g = 249,9 gram

contoh 2

Seorang petani kopi ingin memupuk tanaman peliharaannya dengan NPK 15:15:15 dengan dosis yang dianjurkan 500 kg NPK/ha. Jenis pupuk yang tersedia adalah Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), dan KCl (60% P2O). Langkah yang harus dilakkan adalah mencampur ketiga jenis pupuk tersebut sampai kadarnya setara dengan dosis pupuk NPK yang dianjurkan. Pertama hitung kadar N, P dan K dalam dosis yang dianjurkan, dan akan diperoleh :

Kadar N = 15% x 500 kg = 75 kg
Kadar P2O5 = 15% x 500 kg = 75 kg
Kadar K2O = 15% x 500 kg = 75 kg

Selanjutnya hitung jumlah kebutuhan pupuk Urea, SP-36, dan KCl sebagai berikut :

Kebutuhan Urea = 100/45 x 75 = 166,67 kg
Kebutuhan SP-36 = 100/36 x 75 = 208,33 kg
Kebutuhan KCl = 100/60 x 75 = 124,99 kg

Aplikasi Pemupukan

Faktor penentu memilih cara aplikasi

Dalam menentukan cara aplikasi atau penempatan pupuk harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut.

a. Tanaman yang akan dipupuk

Nilai ekonomi tanaman dan luas areal tanam. Tanaman dengan nilai ekonomi yang tinggi atau mempunyai skala penanaman yang sangat luas dapat mempertimangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis.
Umur tanaman. Tanaman di pesemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan pupuk lewat daun. Pupuk unuk tanaman di lapangan yang masih kecil diberikan dengan cara menugal. Pada tanaman yang sudah besar pupuk dapat diberikan dengan cara larikan
Jarak tanam dan karakter tajuk. Tanaman dengan jarak tanam yang rapat dapat dipupuk dengan cara larikan pada satu sisi barisan tanaman. Tanaman yang ditanam berjauhan dapat dipupuk dengan cara membuat larikan yang melingkar mengelilngi pohon

b. Jenis pupuk yang digunakan

Dalam pemupukan kita harus memperhatikan Mobilitasnya di dalam tanah. Fosfor hampir tidak bersifat mobil, akibatnya pupuk ini tetap berada di tempat semula dalam jangka waktu yang lama sehingga diberikan sekaligus dan harus diberikan dekat dengan perakaran dengan cara menugal atau larikan. Pupuk Kalium dan Nitrogen cenderung mudah bergerak dari tempat penbarannya. Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama-sama air. Karena sifatnya yang mobil pupuk kalium dan nitrogen dapat diberikan dengan ara ditebar dipermkaan tanah atau atau dengan larikan.
Indeks garam. Pupuk dengan indeks garam yang tingi tidak boleh ditempatkan terlalu dekat dengan akar karena akan merusak tanaman.
Ukuran pupuk. Pupuk dengan ukuran butiran yang sangat halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah.

c. Dosis Pupuk

Tidak disarankan menempatkan pupuk dengan dosis sangat tinggi di dalam larikan karena akan merusak tanaman. Pupuk tersebut sebaiknya ditebar agar idak erjadi penumpukan disatu tempat.

Cara aplikasi pupuk

1. Larikan

Caranya buat parit kecil di samping baris tanaman sedalam 6-10 cm, tempatkan pupuk di dalam larikan tersebut, kemudian tutup kembali. Cara ini dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi tanaman. Pada tanaman dengan jarak tanam yang lebar larikan dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-1 kali jari-jari tajuk pohon.

2. Penebaran secara merata di atas permukaan tanah

Cara ini biasanya dilakukan sebelum penanaman atau bersamaan dengan pengolahan tanah, seperti pada aplikasi kapur. Pada pemupukan susulan hal ini dapat dilakukan untuk pupuk yang tidak mudah menguap.

3. Pop Up

Caranya ppuk dimasukkan pada lubang tanam pada saat penanaman bibit. Pupuk yang digunakan harus yang indeks garamnya rendah agar tidak merusak bibit.

4. Fertigasi

Pupuk dilarutkan kedalam air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi. Cara ini banyak dilakukan pada pembibitan

Waktu pemupukan

Dilihat dari sifat bereaksinya pupuk ada yang cepat ada yang lambat, sehingga hal ini akan mempengaruhi kepada kapan pupuk itu harus diberikan. Pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan diawal tanam sebagai pupuk dasar dan akan tersedia dalam jangka waktu yang lama sehingga frekuensi aplikasinya sedikit. Sedangkan pupuk yang bereaksi cepat biasanya diberikan secara bertahap karena pupuk ini cepat tercuci sehinga cepat berkurang ketersediaanya dalam tanah. Dilihat dari peranannya ada yang berperan dalam pertumuhan vegetatif dan generatif, sehinga pemberiannyapun disesuaiakan dengan masa pertumbuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA



Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1985. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bina Cipta. Jakarta.

Sri setyadi Harjadi, MM., Dr. 1979. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia. Jakarta.

Mul Mulyani Sutedjo, Ir. 1989. Analisis Tanah, Air, dan Jaringan Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Novizan, Ir. 2001. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.
tani modern
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. POTRET PERTANIAN - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template