-->
  • Jelajahi

    Copyright © POTRET PERTANIAN
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    TUMPANGSARI TOMAT DAN SAWI PUTIH

    Prasetyo Budi
    Rabu, Agustus 10, 2016, Rabu, Agustus 10, 2016 WIB Last Updated 2021-07-13T05:25:58Z


    masukkan script iklan disini
    Potret Pertanian - Tumang Sari Tomat dan Sawi Putih, Luasan lahan memang berkorelasi positif dengan besar kecilnya tingkat pendapatan petani. Meski demikian, bukan berarti dengan lahan yang sempit petani sama sekali tidak bisa berkutik untuk mendapatkan penghasilan lebih atau setidaknya mampu mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

    Salah satu siasat yang bisa digunakan untuk mengoptimalkan potensi lahan yang memang sedikit itu adalah dengan menerapkan sistem tanam tumpangsari (polyculture) atau menanam dua atau lebih macam tanaman pada satu luasan lahan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan.

    Dalam sistem tanam tumpangsari juga dikenal istilah double cropping, multiple cropping, dan relay cropping. Istilah double cropping muncul saat dua macam tanaman ditanam secara bersamaan dalam satu luasan lahan. Sementara apabila dalam satu luasan lahan tersebut ditanam lebih dari dua macam tanaman dengan jeda waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan, maka sistem tanam ini dikenal dengan sebutan multiple cropping. Namun apabila penanam tanaman kedua dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen, maka hal ini dikenal sebagai relay cropping atau sistem tumpang gilir.
    Dalam praktiknya, double cropping ataupun multiple cropping sudah banyak dan lazim diterapkan oleh para petani hortikultura, terutama di kawasan Bandung Barat, Bandung, dan juga Garut. Di Lembang, Bandung Barat, misalnya, akan sangat sulit menemukan petani yang hanya menanam satu jenis tanaman (monoculture) di lahan garapan mereka. Umumnya mereka selalu menanam dua atau lebih jenis tanaman sayuran dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan, misalnya: letuce+sawi putih+cabai rawit/tomat.
    Baca Juga :
    Yang pasti, meskipun lahan yang digunakan sempit, petani bisa menghasilkan lebih dari satu komoditas dalam satu luasan lahan. Bahkan, apabila salah satu tanaman yang ditanam mengalami masalah harga jual ataupun sampai gagal panen, petani masih tetap memiliki peluang untuk mendapatkan hasil dari komoditas lain yang diusahakan bersamaan.


    Dalam menentukan jenis tanaman yang akan digunakan dalam sistem tumpangsari sebaiknya juga mempertimbangkan ketersediaan air selama masa pertumbuhan tanaman. Hal ini untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang optimal.

    Demikian pula dengan tingkat kesuburan tanah. Hal itu mutlak diperlukan untuk menghindari persaingan antar tanaman, terutama dalam penggunaan unsur hara dan air dalam tanah. Lebih baik jika penanamannya dikombinasikan antara tanaman yang memiliki perakaran yang dalam dengan tanaman yang memiliki sistem perakaran dangkal.

    Bentuk, luas, dan tinggi tajuk tanaman yang akan ditanam juga perlu diperhatikan. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih tajuk antar tanaman, sehingga persaingan dalam mendapatkan sinar matahari bisa dihindari. Pasalnya, apabila penerimaan sinar matahari tidak bisa optimal, maka hasil panennya juga tidak akan optimal lantaran proses fotosintesa-nya terganggu.

    Sementara itu, untuk mengurangi resiko serangan hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman tumpangsari, alangkah baiknya apabila tanaman yang dikombinasikan memiliki jenis hama dan penyakit yang berbeda agar tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit pada tanaman lain yang ditumpangsarikan.
    Seperti yang dilakukan oleh seirang p-etani di dataran tinggi alahan panjang solok sumatera barat ini, yaitu bapak jamal yang bertanam Tomat tumangsari dengan sawi putih, yang hsilnya dapat dilihat pada gambar diatas,
    Selain dapat mengoptimalkan lahan yang ada tentunya lebih menguntungkan bagi petani, sepertinya dengan serangan ulat yang lebih suka dengan tanaman sawi ini, sehingga tomat sebagai tanaman utamnya dapat terhindar dari serangan hama ulat terutama, yang artinya petani lebih diunyingkan dengan berkurangnya serangan hama ini.
    Selanjutnya sawi putih panen kurang lebih dalam waktu 40 hari setelah tanam sehingga dalam satu musim tomat dapat menanam 2 kali sawi putih sehingga sangat membantu dari segi pembiayaan tanaman tomat yang sedang dalam proses perawatan.
    Demikian info dari potret pertanian bersama FA, SGI sumbar.

    Potret Pertanian
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini