-->
  • Jelajahi

    Copyright © POTRET PERTANIAN
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Hasil Penelitian Ilmu Tanah dan Agronomi Tahun 2008 Ilmu Tanah dan Agronomi

    Prasetyo Budi
    Sabtu, Juni 04, 2011, Sabtu, Juni 04, 2011 WIB Last Updated 2016-05-08T09:38:03Z


    masukkan script iklan disini
    Lahan bekas tambang yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Sumatera maupun Kalimantan merupakan lahan marginal yang dapat menjadi alternatif pengembangan tanaman kelapa sawit. Upaya memperbaiki kerusakan yang diakibatkan kegiatan penambangan dilakukan dengan berbagai kegiatan, terutama dengan aplikasi bahan organik untuk mengatasi faktor pembatas yang umumnya adalah tekstur yang didominasi pasir dan kandungan unsur yang beracun bagi tanaman. Tahap awal penelitian dilakukan untuk mengetahui kemungkinan penggunaan tanah yang berasal dari lahan bekas tambang sebagai media tanam bagi bibit kelapa sawit.
    Hasil pengukuran bobot kering tanaman menunjukkan bahwa bobot kering total tertinggi terdapat pada media tanam menggunakan top soil. Pada media tanam menggunakan tailing timah, hasil pengamatan menunjukkan bahwa pengaruh aplikasi bahan organik berupa kompos TKS terhadap total bobot kering bibit pada percobaan ini masih lebih baik dibandingkan dengan aplikasi bahan-bahan kimia seperti aquasorb, zeolit, dolomite, dan humic acid.
    Hasil analisis terhadap serapan hara daun menunjukkan pola yang relatif sama dengan hasil pengukuran bobot kering tanaman. Serapan hara N, P, K, Ca, dan Mg daun yang relatif lebih tinggi terdapat pada bibit yang ditanam pada media top soil dan tailing timah dengan perlakuan aplikasi kompos TKS. Dalam percobaan ini, pengaruh aplikasi bahan-bahan kimia seperti aquasorb, zeolit, dolomite, dan humic acid terhadap serapan hara relatif belum sebaik aplikasi kompos TKS.



    Emisi Karbon pada Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut
    Pengukuran emisi CO2 pada lahan gambut dilakukan pada tiga site yang menggambarkan keragaman pengelolaan lahan gambut, yaitu pada areal hutan sekunder, areal TBM (tanaman belum menghasilkan), dan areal TM (tanaman menghasilkan). Alat yang digunakan sebagai perangkap emisi CO2 dari lahan gambut adalah Poly-acrylic chambers berukuran 0,6 m x 0,6 m x 0,4 m. Sampel CO2 yang terperangkap dalam chambers kemudian diambil menggunakan syringes 10 mL untuk kemudian diukur menggunakan portable gas chromatography.

    Pada musim kemarau (Agustus 2008), hasil pengukuran menunjukkan bahwa emisi CO2 tahunan dari berbagai sistem pengelolaan lahan gambut (hutan sekunder, TBM2, dan TM 12) hampir sama, yaitu berkisar 33.682-34.738 kg/ha. Hal ini diduga terkait dengan kedalaman muka air tanah yang hampir sama, yaitu sekitar 55 cm. Kondisi di antara permukaan tanah hingga kedalaman 55 cm ini merupakan kondisi aerobik sehingga dekomposisi bahan organik mudah terjadi dan menghasilkan emisi CO2. Karena berada pada kedalaman muka air tanah yang hampir sama, diduga emisi CO2 yang dihasilkan juga relatif sama. Pada musim penghujan (Nopember 2008), hasil pengukuran menunjukkan bahwa emisi karbon yang terjadi berkisar 8.305-51.884 kg/ha. Emisi CO2 tertinggi terjadi pada areal hutan sekunder dan terendah pada areal tanaman kelapa sawit TBM-2. Rendahnya emisi CO2 pada areal TBM-2 ini diduga terkait dengan kedalaman muka air tanah yang hanya sekitar 35 cm, lebih dangkal dibandingkan pada areal hutan sekunder maupun TM.

    Teknik Peresapan Air Bebas Aliran Permukaan dalam Upaya Peningkatan Produksi Kelapa Sawit
    Musim kemarau yang jelas pada wilayah-wilayah di sebelah selatan katulistiwa, menyebabkan tidak optimalnya produksi tanaman kelapa sawit. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa upaya untuk meningkatkan peresapan air ke dalam tanah sehingga dapat meningkatkan cadangan air di dalam tanah. Dalam hal ini, PPKS bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor untuk menguji teknik konservasi tanah dan air (teras gulud dan rorak) dalam meningkatkan peresapan air di dalam tanah sehingga produksi tanaman kelapa sawit pada musin kemarau dapat ditingkatkan.
    Hasil pengamatan menunjukkan bahwa overlandflow, baseflow + interflow, dan total runoff yang terjadi selama tahun 2008 pada blok 3 (perlakuan rorak) adalah yang terkecil (12,6 mm) daripada blok 1 (perlakuan teras gulud; 103,2 mm), dan blok 2 (kontrol; 359,9 mm). Selain itu, erosi tanah secara berturut pada blok percobaan yaitu sebesar 1,4 kg/ha; 127,8 kg/ha; dan 2,6 kg/ha. Angka ini masih jauh di bawah erosi yang masih dapat dibiarkan (tolerable soil loss, 20 ton/ha/tahun). Dengan demikian, secara keseluruhan nilai koefisien runoff blok 3 (perlakuan rorak) yaitu sebesar 9,0% lebih kecil dari pada blok 1 (perlakuan guludan), sebesar 13,7% dan lebih kecil dari blok 2 (perlakuan kontrol) sebesar 23,3%.
    Data produksi menunjukkan bahwa aplikasi teras gulud memberikan produksi yang lebih baik dari pada aplikasi rorak, sementara aplikasi rorak memberikan hasil lebih baik dari pada kontrol (tanpa perlakuan konservasi tanah dan air). Blok yang mendapat perlakuan teras gulud menghasilkan produksi TBS tertinggi (25,2 ton/ha) dibandingkan blok dengan aplikasi rorak (23,6 ton/ha) dan jauh lebih tinggi dari pada blok kontrol (20,8 ton/ha). Dengan kata lain, produksi TBS blok dengan aplikasi guludan dan rorak lebih tinggi dibandingkan kontrol sebesar 21,0% dan 13,5%.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini